Gedong Bagoes Oka
Gedong Bagoes Oka

Dia bukanlah seorang tokoh terkenal di Indonesia. Di Tanah Airnya sendiri, ketokohannya mungkin hanya mendapat pengakuan dari sekelompok orang yang punya perhatian dan keprihatinan yang sama dengannya. Apalagi ia seorang perempuan. Posisi dan peran kaum hawa harus diakui belum mendapat ruang yang cukup di negeri kita yang masih dominan dengan warna patriakhalnya. Tetapi tidak demikian di pentas internasional. Berbagai kiprahnya mendapat pengakuan dengan terpilihnya ia sebagai salah seorang presiden (ketua) World Conference on Religion and Peace (WCRP).

SUARA TOKOH (Biografi) – Semasa sekolah di Algemene Middelbare School (AMS) di Yogyakarta, Ibu Gedong tinggal di keluarga Prof. HJ. Bavick Pendeta misionaris Kristen, dosen Sekolah Tinggi Teologia Duta Wacana (Cikal Bakal Universitas Kristen Duta Wacana).

Pada tahun 1964 Ibu Gedong lulus dari Universitas Udayana Denpasar dan mengajar bahasa Inggris di Universitas Udayana hingga tahun 1972.

Ibu Gedong memegang teguh pentingnya menghidupi spiritulitas perdamaian seperti yang diajarkan dalam agama Hindu sebagai Sanatana Dharma. Ibu Gedong kemudian mendirikan Yayasan Bali Santi Sena (Gerakan Perdamaian Masyarakat Bali) pada tahun 1970.

Pada tahun 1970-an beliau mulai intens mendalami ajaran spiritualisme Mahatma Gandhi, yaitu Ahimsa (menolak kekerasan), Swadesi (kemandirian), Satyagraha (kekuatan kebenaran). Pada diri Mahatma Gandhi, Ibu Gedong menemukan spirit yang dirindukan dari ajaran Hindu. Ajaran-ajaran kebaikan, welas asih dan kelembutan.

Ibu Gedong menterjemahkan biografi Mahatma Gandi dan diterbitkan tahun 1975. Maka, di tengah pro-kontra yang sempat mengkhawatirkannya, Ibu Gedong mendirikan Ashram Candi Dasa di Karangasem, Bali, sebuah ashram yang bercorak Gandhi.

Ashram Gandi menjadi semacam lembaga pendidikan pesantren Hindu yang menampung anak-anak muda untuk belajar spiritulitas perdamaian dalam ajaran Hindu.

Aktifitas di Asram Gandhi dimulai sejak waktu subuh dengan berdoa bersama, meditasi dan yoga. Dalam mewujudkan prinsip-prinsip swadesi atau kemadirian, warga asram dilatih beberapa ketrampilan hidup, seperti bertani bersama masyarakat, membuat kerajinan, pengobatan alternatif seperti akupunktur, menjahit dan sebagianya.

Asram ini juga menampung anak-anak yatim dan anak dari keluarga tidak mampu, termasuk dari kalangan bukan penganut Hindu, untuk melanjutkan sekolah dan mendapat pendidikan ketrampilan hidup agar dapat mandiri.

Dalam menterjemahkan ajaran Trihita Karana dalam kehidupan, yatu ajaran untuk membangun relasi harmoni dengan Tuhan, sesama manusia dan alam semesta, terdapat ajaran Gandhi yang sangat menonjol dan mempengaruhi gerakan Ibu Gedong sebagaimana dulu tertulis di salah satu tembok rumah induk kediaman beliau di Asram Gandhi di desa Candi Dasa.

Ajaran tersebut dikenal dengan Seven Social Sins (Tujuh Dosa Sosial) yaitu:

1) Politik tanpa prinsip,
2) Kekayaan tanpa kerja keras,
3) Perniagaan tanpa moralitas,
4) Kesenangan tanpa nurani,
5) Pendidikan tanpa karakter,
6) ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan,
7) Peribadatan tanpa pengorbanan.

Ibu Gedong mendirikan yayasan Kosala Wanita dan Yayasan Kesejahteraan Perempuan untuk mengupayakan meningkatan pendidikan dan ekonomi bagi para perempuan Bali. Pada 1996 beliau mendirikan Asram untuk para mahasiswa, yaitu Gandhi Vidya Pith di Denpasar dan selanjutnya mendirikan asram serupa di Yogyakarta.

Dalam menyebarkan spirit Gandhian, Ibu Gedong bertemu dan menjalin persahabatan saling menguatkan dengan banyak tokoh perdamaian dan aktifis pro demokrasi dari berbagai latar belakang agama.

Salah satu lembaga yang menjadi ruang perjumpaan persahabatan ini adalah Institut DIAN/Interfidei di Yogyakarta, di sinilah beliau menjalin persahabatan dengan Gus Dur melalui berbagai kegiatan. Ibu Gedong meninggal dunia pada 14 November 2002. (Suaratokoh/Gedong)

Penulis: MSP
Editor: MSP
Sumber Foto: BNPT RI | Sumber Rilis: BNPT RI